Thursday, July 2, 2009

Anak-Anak 'Kontroversial' Jacko

Thursday, December 18, 2008

Soal Amblas Desa Bidari

Serambi Online: 18/12/2008 08:33 WIB

Gubernur Berdialog dengan ExxonMobil

[ rubrik: Serambi | topik: Pemerintahan ]

LHOKSUKON - Gubernur Aceh, Irawandi Yusuf didampingi Wakil Bupati Aceh Utara, Syarifuddin SE dan Kapolres AKBP Yosi Muhammartha, Rabu (17/12), berkunjung Poin A ExxonMobil, Kecamatan Nibong. Gubernur dan rombongan disambut Manajer Operasional Produksi untuk Aceh, Barton P Cahir, staf Humas Anwar Iska dan Jafar Husen, serta sejumlah staf lainnya di perusahaan itu. Dalam pertemuan sekitar 30 menit tersebut, Irwandi meminta pihak ExxonMobil peduli terhadap lingkungan, karena menurut masyarakat ExxonMobil belum memberikan perhatian. Padahal, lokasi kejadian hanya terpaut beberapa meter dari pagar perusahaan itu.

Irwandi juga berharap agar ExxonMobil menurunkan tim ahli terkait dengan amblasnya lahan dan rumah penduduk di Desa Bidari. Karena, selama ini disebut-sebut penyebab amblasnya tanah di Desa Bidari akibat penyedotan minyak dan gas yang dilakukan oleh perusahaan ini.

Supaya tidak ada kecurigaan semua pihak, Gubernur Aceh berharap perusahaan menurunkan tim terpadu melakukan pengecekan tentang labilnya tanah di Desa Bidari, seperti dari Unsyiah Banda Aceh, Unimal Lhokseumawe maupun dari lembaga lainnya.

Permintaan Irwandi Yusuf mendapat sambutan baik dari Manajer Operasional ExxonMobil di Aceh, Barton P Cahir. Dia berjanji dalam waktu dekat ini akan menurunkan tim ke lokasi tersebut guna melakukan pengecekan tentang penyebab amblasnya tanah.

Tak hanya itu, Exxon juga akan segera menyalurkan bantuan kepada masyarakat di sekitar perusahaan. Apalagi, katanya, setiap terjadi musibah, ExxonMobil tidak tinggal diam. “Kami akan segera mengirimkan bantuan kepada masyarakat Desa Bidari,” kata Barton P Cahir menanggapi Irwandi.

Setelah berdialog dan mendapat kesimpulan, Irwandi Yusuf melanjutkan kunjungannya ke lokasi banjir di Lhoksukon dan Pirak Timu. Kedatangan Irwandi ke lokasi banjir tidak membawa bantuan, karena sudah diserahkan sehari sebelumnya sebanyak Rp 400 juta untuk Aceh Utara, termasuk untuk membangun sejumlah rumah di Desa Bidari. Sedangkan kayu untuk pembangunan rumah tersebut, diambil dari kayu sitaan pihak Polres Aceh Utara.

Ketika berkunjung ke Kuta Makmur, Gubernur Aceh membantu pembangunan Dayah Bahrul Ulum Desa Langkuta. Dayah yang dipimpin Tgk HM Juned Majid itu diberikan dana Rp 10 juta. Sementara di Langkahan, Rabu (17/12), dilaporkan 33 KK masih menetap di pengungsian dan ditampung di rumah tetangga.(ib)

Sikapi Kondisi Desa Bidari

Serambi Online: 17/12/2008 02:18 WIB
Gubernur Perintahkan Penanganan Darurat
* Exxon Harus Bertanggungjawab Secara Sosial
* Anak-anak Mulai Diserang Penyakit

[ rubrik: Serambi | topik: Bencana Alam ]

LHOKSUKON - Gubernur Irwandi Yusuf, Selasa (16/12) melihat langsung kondisi masyarakat Bidari, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara yang dicekam ketakutan akibat tanah di kampung mereka amblas. Gubernur meminta masyarakat tak kembali sebelum kondisi dinyatakan normal dan memerintahkan Bupati Aceh Utara melakukan penanganan darurat. Di hadapan warga Desa Bidari, Gubernur Aceh memerintahkan Bupati Aceh Utara membangun rumah darurat sebanyak 33 unit untuk menampung warga Bidari. Irwandi juga memberikan dana Rp 400 juta. Sedangkan kebutuhan kayu untuk bahan baku rumah, meminta Muspida Aceh Utara memberikan surat kepada camat untuk mengelola kayu selama satu bulan.

Irwandi juga meminta Muspika Langkahan menyelesaikan pembangunan rumah untuk warga Bidari dalam waktu dua minggu. Rumah darurat itu dibangun di tempat yang lebih aman.

Menurut Irwandi, amblasnya permukaan tanah di Desa Bidari belum dapat diprediksi penyebabnya. Ini harus diturunkan tim khusus yang mempunyai pengetahuan tentang kondisi alam. Untuk sementara, ada kemungkinan ekses dari gempa dahsyat pada 2004.

Begitupun, tambah Irwandi, ExxonMobil harus bertanggungjawab bidang sosial, karena lahan warga sangat dekat dengan pagar ExxonMobil. Irwandi tidak menuding ExxonMobil sebagai penyebab amblasnya tanah di Desa Bidari, tapi ExxonMobil wajib memberikan perhatian kepada korban tanah amblas ini, apapun penyebabnya. “Saya akan berbicara dengan GM ExxonMobil,” tegas Gubernur Aceh.

Selain menyerahkan dana Rp 400 juta yang diterima Wakil Bupati Aceh Utara Syarifuddin, Irwandi juga menyerahkan bantuan sembako seperti 300 butir telur, 300 kaleng sarden, 200 liter minyak goreng, 160 helai sajadah, 160 helai kain sarung, 25 dus roti, dan obat-obatan.

Dalam kunjungan ke Bidari, Gubernur Aceh didampingi Walikota Lhokseumawe Munir Usman, anggota DPRK Aceh Utara, Kapolres Aceh Utara AKBP Yosi Muhammartha, perwakilan Dandim 0103/AU, dan Muspika Langkahan. Selain melihat kondisi masyarakat di sana, Irwandi juga meninjau lokasi perkampungan dan rumah warga yang retak akibat turunnya permukaan tanah di desa itu.

Pada kesempatan itu Gubernur Irwandi juga menyerahkan bantuan sebesar Rp 60 juta kepada korban banjir di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe yang diterima Walikota Lhokseumawe, Munir Usman.

Wartawan Serambi yang mengkuti rombongan Gubernur Irwandi dengan menumpang mobil milik Kabag Humas Pemkab Aceh Utara, terjebak dalam hutan Bukit Tower akibat bocor ban. Lokasi tersebut berjarak sekitar enam kilometer dari irigasi Langkahan atau sekitar 20 kilometer arah barat Desa Bidari. Hingga pukul 20.25 WIB tadi malam, masih di lokasi.

Diserang penyakit

Menurut pengamatan Serambi, saat ini anak-anak termasuk balita dari Desa Bidari yang harus menyertai orang tua mereka ke pengungsian mulai diserang penyakit.

Raidah (27), seorang warga Bidari mengatakan, anak-anak mulai diserang penyakit seperti batuk dan demam. Hingga kemarin tidak ada warga yang berani pulang ke rumah, apalagi sudah ada larangan dari pihak kecamatan.

Sementara itu, T Burhanudinsyah yang mengaku sudah 25 tahun bekerja di ExxonMobil mengatakan, pengeboran yang dilakukan perusahaan tersebut tidak berpengaruh pada amblasnya tanah di desa tersebut. Dia menduga, amblasnya tanah disebabkan terjadi pelapukan sisa-sisa dari penebangan liar.(ib/saf/c37)

Ketua MPR: Kasus 'Sepatu' Bush Kritik Terbuka bagi Dunia

Okezone.com, Rabu, 17 Desember 2008 - 08:12 wib by Ferdinan - Okezone

JAKARTA - Insiden pelemparan sepatu oleh wartawan Irak kepada Presiden Amerika Serikat, George W Bush saat jumpa pers di Bagdad, Irak, menjadi pelajaran penting bagi setiap presiden di dunia.

Demikian disampaikan Ketua MPR Hidayat Nurwahid kepada okezone di Jakarta, Rabu (17/12/2008). "Ini kritik terbuka bagi presiden manapun agar tidak membuat kebijakan yang merusak negara lain. Karena nanti akan terjadi hal yang tidak terduga,"

Hidayat menambahkan insiden tersebut terjadi karena George Walker Bush mengeluarkan kebijakan yang tidak pro kemanusiaan di Irak.

"Dia bikin kebijakan yang menghancurkan negara orang, ribuan orang mati terkait perang di Irak," sambungnya.

(mbs)

Dilempari Sepatu, Bush Malah Bercanda

Source: Kompas.com, Senin, 15 Desember 2008 | 12:43 WIB

BAGHDAD, SENIN — Dalam kunjungannya yang sangat dirahasiakan dan diwarnai oleh aksi pelemparan sepatu di Baghdad, Presiden George W Bush yang akan berakhir masa jabatannya pada bulan depan justru memuji perkembangan pertempuran yang dilancarkan oleh pasukan AS. "Ini adalah ciuman perpisahan, kamu anjing!" teriak seorang pelaku unjuk rasa dalam bahasa Arab.

Pelaku unjuk rasa yang melemparkan sepatunya ke arah Bush itu diketahui bernama Muntadar al-Zeidi, seorang koresponden Al-Baghdadia, televisi nasional Irak yang berbasis di Kairo, Mesir. "Ini untuk para janda, anak-anak yatim piatu, dan mereka yang tewas terbunuh di Irak," ucap Muntadar al-Zeidi lantang untuk menjelaskan aksinya melempar dua buah sepatu ke arah Bush.

Bush berhasil menghindar dari sepatu yang melayang ke arah dirinya dengan menundukkan kepalanya. Kedua sepatu melintas di atas kepala Bush dan menghantam dinding yang dibelakangi oleh Presiden AS itu dengan suara cukup keras.

"Ukuran 10," kata Bush dengan penuh canda mengomentari sepatu yang melayang ke arah dirinya itu. Komentar itu disampaikan Bush setelah Muntadar al-Zeidi melempar dua sepatu ke arah Presiden AS tersebut dari jarak sekitar 6 meter.

Pada lemparan sepatu pertama, Bush menunduk dan sepatu itu hampir menyentuh kepalanya. Bush kembali menundukkan kepala saat lemparan sepatu kedua yang berlangsung dengan cepat sebelum akhirnya wartawan itu dibawa ke luar ruangan oleh beberapa personel keamanan.

Bush berkunjung ke Ibu Kota Irak itu tepat 37 hari sebelum ia menyerahkan kebijakan perangnya kepada Barack Obama yang telah berjanji mengakhiri pertempuran tersebut. Bush berupaya menekankan penurunan aksi kekerasan dan merayakan kesepakatan keamanan yang dijalin oleh AS dan Irak belakangan. Kesepakatan itu menyerukan penarikan pasukan AS dari Irak menjelang akhir 2011.

"Perang belum usai," kata Bush. "Perang ini sudah pasti menuju kemenangan."

Bush kemudian melanjutkan perjalanannya ke Pangkalan Udara Bagram, Afganistan, untuk menemui lebih dari 1.000 personel pasukan AS dan asing. "Afganistan adalah sebuah negara yang secara dramatis berubah dibandingkan dengan delapan tahun lalu," ucap Bush. "AS meraih kemajuan dalam pertempuran di sana."

Hampir 150.000 tentara AS masih berada di Irak. Lebih dari 4.209 tentara AS tewas dan dana 576 miliar dollar AS telah dihabiskan sejak pertempuran di negara itu dimulai 5 tahun 9 bulan silam.

Di Afganistan, terdapat sekitar 31.000 tentara AS. Para komandan pasukan AS telah menyerukan penambahan pasukan hingga 20.000 lebih personel untuk menghadapi pertempuran yang cukup sulit, terutama di Afganistan selatan yang menjadi sarang Taliban. Tingkat kekerasan telah meningkat tajam di wilayah tersebut pada tahun ini.

Hasil beberapa jajak pendapat menunjukkan, sebagian besar warga AS yakin bahwa Pemerintah AS telah menyimpang dari target invasi ke Irak pada 2003. Bush mendeklarasikan perang melawan Pemimpin Irak Saddam Hussein dengan alasan bahwa negara di Timur Tengah itu menyimpan senjata pemusnah massal.

Namun, senjata pemusnah massal yang dimaksud tidak pernah ada sehingga intelijen AS didiskreditkan dan kredibilitas pemerintahan Bush tercoreng.